Find and Follow Us

Rabu, 23 Oktober 2019 | 23:48 WIB

SSE Korea Selatan Boyong Film Animasi ke Indonesia

Rabu, 18 September 2019 | 03:35 WIB
SSE Korea Selatan Boyong Film Animasi ke Indonesia
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Studio Shoh Entertainment (SSE) asal Korea Selatan (Korsel) mengenalkan lima film animasi populer asal Negeri Ginseng itu ke Indonesia. SSE ingin mengembangkan konten animasinya bersama animator-animator Indonesia.

Seung Hyun Oh, President Director SSE mengatakan, pihaknya memberi tempat belajar dan kesempatan bekerja kepada para animator Indonesia untuk memproduksi konten lokal.

"Saya melihat potensi anak muda di Indonesia ini sangat kreatif. Inilah yang membuat saya sama-sama mengembangkan bakat. Tujuannya hanya satu yaitu memberikan tontonan yang baik bagi anak-anak lewat animasi," ungkap Sheung Hyun Oh dalam keterangan tertulis, Selasa (17/9/2019).

Lima konten atau film animasi yang dikenalkan bagi anak-anak Indonesia di antaranya Hello Jadoo dari ATOONZ, Mini Force dari SAMG Animation, Go Go Dino dari Lotta Animation dan Mogozzi Studio, Carrie and Friends dari Carrie Soft Co. Ltd, dan FrienZoo dari Grafizix.co.

"Kami memulai bisnis kami dengan IP (intellectual property) Korea, tapi itu memulai dulu. Kemudian, tujuan kami adalah membuat IP sendiri, yaitu Indonesia untuk IP pasar dunia dari studio kami lalu kami melakukan bisnis untuk pasar Indonesia dan dunia," ujar Seung Hyun Oh.

Sementara itu Rina Novita, selaku CEO DNA Production yang membawa kartun Upin Ipin dan Boboiboy ke Indonesia menyampaikan, ia antusias bekerja sama setelah melihat kelima konten SSE tersebut memiliki standar kualitas.

"Kelimanya punya kekuatan konten dan teknik yang sangat baik. Tantangan hanya satu yaitu bagaimana supaya anak-anak bisa mencintai produk yang ditawarkan. Butuh pendalaman dan strategi agar keseluruhannya bisa diterima dengan baik," ujar Rina.

Rina Novita juga mengungkap punya pengalaman yang cukup menantang ketika memutuskan bekerja sama dengan SSE.

"Saya tahu dan merasakan bagaimana sulitnya menjual tayangan animasi bagi anak-anak. Stasiun televisi banyak yang menolak karena saat itu produknya dibilang kampungan. Tapi berkat ketekunan dan berani ambil resiko, Ipin Upin yang tadinya tidak dipandang menjadi booming," demikian Rina Novita. [adc]

Komentar

Embed Widget
x