Find and Follow Us

Rabu, 24 Juli 2019 | 10:33 WIB

Perkembangan Industri Electronic Music Tanah Air

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Kamis, 16 Mei 2019 | 15:55 WIB
Perkembangan Industri Electronic Music Tanah Air
(Foto: inilahcom/Mia Kartikawati)

INILAHCOM, Jakarta - Demi ikut memajukan perkembangan industri electronic music di Tanah Air, ICEPERIENCE.ID kembali menyelenggarakan program International Clubbing Experience (ICE) 2019.

Mengangkat tema #localICEmovement, rangkaian ICE 2019 didedikasikan untuk membentuk ekosistem musik elektronik Tanah Air yang lebih berkualitas sehingga talent talent lokal bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan diperhitungkan di level Internasional.

"Tema #localICEmovement dalam program ICEPERIENCE.ID - ICE 2019 ini merupakan fondasi dari rangkaian acara ICE 2019 yang berorientasi memberikan ruang dan apresiasi kepada talent lokal dan membawa mereka ke level yang lebih tinggi lagi. Bukan hanya dari sisi pelaku musiknya saja, tapi juga dari sisi audience sehingga kami berharap ICE 2019 bisa mendorong ekosistem yang berkualitas bagi industri musik elektronik di Tanah Air," ujar perwakilan ICEPERIENCE.ID, Diopsaputra, dalam press conference yang digelar di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, baru - baru ini.

Salah satu program dari rangkaian acara ICE 2019 adalah Electronic Music Producer Contest (EMPC) yang merupakan ajang adu kemampuan bagi para produser musik elektronik baik amatir maupun profesional untuk bersaing menjadi yang terbaik. Pemenang dari EMPC akan mendapatkan kesempatan berkolaborasi dengan Sean Miyashiro, founder dari 88 Rising, sebuah perusahaan mass media yang bermarkas di New York, Amerika Serikat.

Diopsaputra menuturkan, pemilihan Sean Miyashiro sebagai kolaborator dari 88 Rising tak lepas dari rekam jejak 88 Rising yang sekarang ini sedang naik daun sebagai label dunia yang menelurkan penyanyi bertaraf internasional seperti Rich Brian, NIKI, Joji, dan Higher Brothers.

"Sehingga diharapkan bisa menjadi motivasi untuk produser musik Indonesia supaya bisa berkiprah di panggung Internasional," ucap Diopsaputra. Di sisi lain, kolaborasi dengan Sean Miyashiro dari 88 Rising dipastikan akan meningkatkan popularitas, kualitas dan kapasitas bermusik pemenang EMPC.

Panitia pelaksana EMPC, DJ Miko dan DJ Osvaldo Nugroho, menuturkan program ini diselenggarakan untuk menginspirasi dan meningkatkan kemampuan para produser music amatir dan profesional sehingga bisa melahirkan karya-karya yang mendunia. Untuk itu, EMPC bekerjasama dengan line-up juri yang terdiri dari pakar industri musik seperti DJ Winky Wiryawan, Riri Mestica, DJ Sumantri, Eka Gustiwana, DJ Haji, Fajar Juliawan, Lawrence Philip (SAE Institute Jakarta), serta Sean Miyashiro selaku CEO dan Founder 88 Rising.

"Dengan kehadiran juri juri tersebut, kami berharap EMPC dapat melahirkan sosok produser musik yang memiliki skill musikalitas mumpuni sehingga bisa membuat Indonesia semakin dikenal di panggung musik elektronik dunia," ujar DJ Miko. Pendaftaran EMPC dibuka secara nasional mulai 15 Mei 2019 via online melalui website WWW.ICEPERIENCE.ID.

Selain memberi ruang bagi para produser musik lewat EMPC, program ICE 2019 juga menyasar para disc jockey dengan menggelar DJ Battle di dua kota besar yaitu Jakarta dan Bandung. DJ Akhda selaku pelaksana program DJ Battle Jakarta menjelaskan bahwa kompetisi ini bertujuan untuk mencari sosok DJ yang handal memainkan musik dan piawai di berbagai genre.

"Kenapa harus mencari sosok yang seperti itu, karena seseorang baru bisa disebut disc jockey bukan karena bisa meracik musik saja, tapi juga memahami seluk beluk dan perkembangan electronic music hingga sub-genrenya. Nantinya, pemenang akan mendapat hadiah berupa kesempatan bermain di beberapa negara Asia dengan harapan pemenang DJ Battle mendapat pengalaman dan jaringan yang luas untuk melanjutkan karier bermusiknya," tutur Akhda.

Program ICE 2019 lainnya yang tidak kalah menarik adalah event workshop bagi para pelaku dan penikmat musik elekronik yang juga diselenggarakan di Jakarta dan Bandung. Workshop ini bertujuan memberikan wawasan serta pelatihan mengenai nilai-nilai fundamental dan keahlian yang diperlukan untuk menjadi seorang DJ, Produser, Media Digital, dan lainnya.

"Jadi kami akan memberi pemahaman tentang bagaimana DJ itu menjadi sebuah brand bukan hanya sekadar main dan memutar musik saja, tapi juga aspek lainnya seperti me-manage media sosial untuk keperluan publikasi, lalu bagaimana mereka membangun koneksi dengan sekitarnya karena hal tersebut sangat penting," tambahnya.

Workshop ini juga menjadi ajang pembekalan bagi para finalis DJ Battle nantinya.

Tak hanya menyasar pelaku musik elektronik, ICE 2019 juga menyiapkan program bagi penikmat musik elektronik dengan menggelar beberapa party event di sepanjang tahun 2019 dengan konsep yang akan membuat para partygoers mendapatkan pengalaman yang berbeda dari sisi bonding, indentity, dan engagement dalam setiap party-nya.

Salah satunya adalah kinetICE yang akan diadakan di Jakarta pada bulan Oktober 2019 mendatang. Sesuai namanya, music party ini mempunyai konsep yang unik dengan mengkolaborasikan teknologi, orchestra, choir, DJ dan lainnya sehingga partygoers diberikan pengalaman yang tidak pernah didapatkan dimanapun.

Dari seluruh rangkaian progam ICE 2019, Diopsaputra kembali menekankan komitmen dan konsistensi ICEPERIENCE.ID dalam memajukan industri electronic music di Tanah Air. "Komitmen dan konsistensi ini kami tingkatkan di tahun ketiga dengan menggandeng perusahaan mass media internasional, 88 Rising dengan harapan industri ini tidak lesu tetapi semakin bergairah, bertumbuh dan beregenerasi.

Untuk mengetahui lebih detail keseruan program-program yang ada di rangkaian ICE 2019 dan ingin bergabung ke dalam rangkaian program ini, bisa mengunjungi website WWW.ICEPERIENCE.ID dan Instagram @ICEPERIENCE.ID.(tka)

Komentar

Embed Widget
x