Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 15 Oktober 2018 | 23:17 WIB

Menunggu Pagi, Film Berkisah Konflik Dunia Remaja

Oleh : Mia Umi Kartikawati | Selasa, 9 Oktober 2018 | 19:55 WIB

Berita Terkait

Menunggu Pagi, Film Berkisah Konflik Dunia Remaja
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Film Menunggu Pagi mengisahkan kehidupan generasi muda metropolitan yang sangat akrab dengan budaya pesta ini pun menampilkan muka baru.

Bintang muda yang segar tersebut yaitu Arya Saloka, Aurelie Moremans, Arya Vasco, Bio One, Raka Hutchison dan Mario Lawalata. Tidak hanya itu, terdapat pula para pemain pendukung yang sudah malang melintang di industri film Tanah Air seperti Yayu Unru, Gerindra Bimo dan Putri Marino.

Film ini mengangkat genre drama remaja yang mengangkat problematika remaja dengan latar ajang festival musik tahunan terbesar Djakarta Warehouse Project (DWP). Secara dekat, film ini merupakan kisah drama remaja yang bercerita tentang empat orang sahabat yang ingin pergi ke DWP. Sebagai seorang pemuda yang mempunyai toko vynil di daerah Santa, keinginan untuk pergi ke acara musik terbesar tahunan DWP bukan menjadi prioritas untuk dilakukan oleh Bayu (Arya Saloka).

Prinsip itu tidak berubah meskipun para sahabatnya, Rico (Arya Vasco), Kevin (Raka Hutchison) dan Adi (Bio One) sudah datang ke tokonya dan memaksanya untuk dapat ke party tersebut. Prinsip yang dipegang teguh itu terputus ketika tanpa sengaja, Sara (Aurelie Moremans) datang siang hari ke toko vynil sebelum malam acara dimulai. Di satu sisi, Sara membuat situasi yang membuat Bayu jadi sangat penasaran dan tertarik padanya.

IFI Sinema menggandeng sutradara senior Teddy Soeriaatmadja yang sempat vakum cukup lama di industri film Tanah Air dan film Menunggu Pagi menjadi film kembalinya sang sutradara di dunia layar lebar. Sosok Teddy sebenarnya sudah cukup dikenal oleh para pecinta film Tanah Air. Ia telah berkecimpung di industri film sejak tahun 1998 dan telah menelurkan karya film seperti Culik, Banyu Biru, Ruang, Badai Pasti Berlalu (re-make), Lovely Man serta mendapatkan berbagai penghargaan, salah satunya masuk dalam nominasi FFI tahun 2006 sebagai Sutradara Terbaik dan menjadi Best Director di ajang Biffest tahun 2006.

"Saya selalu tertantang untuk membuat film tentang budaya pesta di Indonesia yang saya nilai sebagai sebuah negara yang memiliki norma dan tradisi budaya yang sangat kuat namun dapat menyelenggarakan salah satu festival musik terbesar dan paling banyak di bicarakan di dunia," kata Teddy, Jakarta, Senin, (08/10/2018).

Masih menurutnya, dia bertekad membuat film ini dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan film sebelumnya. Pada film tersebut, dia juga ingin membawa energi yang berbeda. (tka)

Komentar

Embed Widget
x