Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 23 Juli 2018 | 13:07 WIB

Stadhuis Schandaal

Adisurya Abdy Garap Film Sejarah untuk Milenial

Oleh : Aris Danu | Kamis, 12 Juli 2018 | 09:25 WIB
Adisurya Abdy Garap Film Sejarah untuk Milenial
(Foto: inilahcom)

INILAH.COM, Jakarta-Sutradara senior Adisurya Abdy kembali ke dunia perfilman setelah 14 tahun vakum. Kali ini Adi menggarap film berlatar sejarah berjudul Stadhuis Schandaal. Film ini dikemas dengan teknologi film terbaru, computer generated imagery (CGI).

Adi mengatakan, film berlatar sejarah kolonial Belanda ini membidik segmen kalangan milenial sehingga memadukan cerita lama dengan masa kini.

"Di produksi film saya berjudul Stadhuis Schandaal, saya berusaha maksimal baik dari unsur cerita dan teknologi. Karena hasrat dan selera penonton terus berubah. Ketika film memasuki zaman milenial, kami juga hadir di era kekinian," kata Adisurya Abdy saat ditemui di Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Stadhuis Schandaal merupakan film yang mengangkat aspek nilai sejarah dengan pendekatan kekinian, agar dapat diterima oleh milenial. Adisurya menjelaskan, industri film Indonesia banyak mengangkat cerita sejarah sebagai film layar lebar, namun karena penggarapannya jauh dari aspek menghibur sehingga cenderung tak diminati penonton, khususnya milenial.

"Kelemahan film kita adalah mengangkat kisah nyata sejarah tapi tidak dalam wujud kekinian, dalam artian memakai format pendekatan hiburan dan pop," ujar sutradara sekaligus penulis skenario film yang menempuh pendidikan di Advanced School for Film Directing (1986-1987) di Los Angeles, Amerika Serikat itu.

Pria yang pernah menyutradarai berbagai film seperti Gita Cinta dari SMA, Roman Picisan, dan Asmara ini menuturkan, penonton film Indonesia didominasi oleh kalangan muda. Oleh karenanya, film berlatar sejarah tersebut dikemas mengikuti trend agar bisa dinikmati kalangan milenial.

"Kalau kita bicara sejarah tempo dulu, maka mereka tidak paham. Filmlah yang memiliki ruang dan alat untuk memberi tahu mereka, apa dan siapa yang pernah terjadi di negeri ini. Caranya ikuti selera milenial," terang Adi.

Stadhuis Schandal mengisahkan tentang Fei (diperankan Amanda Rigbi), seorang mahasiswi Ilmu Budaya Universitas Indonesia yang sedang mengerjakan tugas kampus mengenai The Old Batavia. Saat mencari bahan dan riset di kawasan Kota Tua Jakarta, dia merasa diperhatikan seorang gadis keturunan Belanda dan Jepang yang kemudian dikenal sebagai Saartje Specx atau dipanggil Sarah (Tara Adia).

Sosok Sarah kemudian menghilang dari pandangan Fei saat dering telepon berbunyi. Pertemuan Fei dengan Sarah membuat dia tidak dapat menghilangkan pertanyaan dalam pikiran siapa sosok wanita yang memperhatikannya di Museum Fatahillah --yang dulu bernama Stadhuis.

Ada dua kurun waktu yang ditampilkan dalam film terbaru karya Adisurya Abdy ini, yakni setting zaman kolonial pada abad ke-16 dan kekinian (modern). Film yang lokasi pengambilan gambar dilakukan Jakarta, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah dan Shanghai, Tiongkok ini dijadwalkan tayang bioskop Tanah Air pada pertengahan tahun 2018. [adc]

Komentar

Embed Widget

x