Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 16 Agustus 2018 | 02:23 WIB

Mengenang Deddy Sutomo, Ini 6 Peran Berkesan Deddy

Oleh : Tatzuar Amir | Rabu, 18 April 2018 | 14:35 WIB
Mengenang Deddy Sutomo, Ini 6 Peran Berkesan Deddy
Deddy Sutomo - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta-Aktor senior Deddy Sutomo meninggal dunia pada Rabu (18/04/2018) pagi di usia 76 tahun. Berikut adalah 6 peran almarhum yang paling berkesan.

Sepanjang karir profesionalnya sebagai aktor, Deddy Sutomo telah membintangi kurang lebih sebanyak 44 judul film layar lebar dan dua serial televisi. Mulai aktif di dunia akting sejak era 1970an, Deddy sudah memerankan berbagai macam peran dengan bentang perwatakan yang luas. Mulai dari pendekar di "Panji Tengkorak" hingga ke karakter seorang ayah penggerutu di "Mencari Hilal".

Tim Inilahcom merangkum 6 peran paling berkesan dari aktor karismatik ini.

1. Atheis (1974), karya sutradara Sjumandjaja

Merupakan adaptasi novel klasik berjudul sama karya Achdiat K. Mihardja, film besutan Sjumandjaja yang memiliki judul alternatif Kafir ini, pantas disebut sebagai salah satu film adaptasi terbaik yang pernah diproduksi perfilman Indonesia. Dalam film yang berseting pada era pendudukan Jepang di Tanah Air ini, Deddy Sutomo berperan sebagai karakter Hasan, seorang santri keturunan yang bekerja di perusahaan air minum dan jatuh cinta dengan Rukmini (diperankan oleh Christine Hakim), namun kemudian menikah dengan perempuan berpandangan moderen, Kartini (Emmy Salim). Deddy Sutomo di sini menunjukkan salah satu akting terbaik di karirnya. Karakter Hasan sebagai pria yang menganut cara pandang tradisional yang harus bertemu dengan dunia moderen sangat baik dibawakannya.

2. Pandji Tengkorak (1971), karya sutradara A. Haris

Merupakan adaptasi lepas komik karya Hans Jaladara, Pandji Tengkorak merupakan salah satu film pertama Indonesia yang menjalin kerjasama produksi dengang tim produksi Hong Kong yang di era itu merajai perfilman Asia. Di sini Deddy Sutomo memerankan karakter utama, Pandji, yang difitnah telah membunuh seorang pendekar legendaris. Deddy Sutomo dengan intonasi pelafasan dialog yang khas dianggap mampu menghidupkan salah satu karakter fiktif ikonis di cerita laga Indonesia itu. Filmnya sendiri dianggap sebagai karya klasik.

3. Janur Kuning (1979), karya sutradara Alam Rengga Surawidjaja

Film ini adalah salah satu film Indonesia yang diproduksi di era Orde Baru dan dianggap sebagai alat propaganda Soeharto untuk melegitimasi sumbangsihnya dalam sejarah perjuangan bangsa ini, serta sempat menjadi tontonan wajib untuk kalangan pelajar. Bercerita tentang perang Enam Djam di Yogyakarta di mana para pejuang Tanah Air ingin merebut kota yang kala itu menjadi ibukota Indonesia dari tangan Belanda, Deddy Sutomo berperan sebagai Jenderal Sudirman. Akting Dedi di Janur Kuning" sangatlah ikonis dan dianggap sebagai pemeran Jenderal Sudirman terbaik hingga saat ini.

4. Tanda Tanya (?) (2011), karya sutradara Hanung Bramantyo

Dalam film tentang pluralisme dan semangat Bhinekka Tunggal Ika yang diinspirasi dari kisah nyata seorang Banser NU yang tewas setelah menyelamatkan sebuah gereja dari upaya pemboman di malam Natal ini, Deddy Sutomo berperan sebagai seorang pastur di gereja tempat Rika (diperankan oleh Endhita), seorang perempuan yang berpindah keyakinan menjadi pemeluk Katolik. Meskipun perannya di film ini relatif kecil, namun wibawa dan karisma Dedi Sutomo mampu memberikan sentuhan dramatis dalam film kontroversial ini.

5. Mencari Hilal (2015), karya sutradara Ismail Basbeth

Dalam film yang dalam bahasa Inggris berjudul "The Crescent Moon" ini, Deddy Sutomo berperan sebagai seorang Ayah lanjut usia penggerutu yang sudah menduda dan membuka kedai yang menjual kebutuhan hidup sehari-hari. Mahmud, peran Dedi di film ini, sangat kritis dan juga idealis sehingga cenderung tidak disukai oleh tetangga dan juga anak lelaki satu-satunya, Heli (Oka Antara). Suatu ketika Mahmud ingin melakukan napak tilas dan melakukan penjelajahan menelusuri masa kecil ke tempat di mana dia dan teman-temannya melihat hilal, tanda bulan baru sebagai penanda bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Dalam perjalanan ini, Mahmud yang didamping oleh Heli, terlibat sebuah perjalanan spiritual yang mempertanyakan hubungan antara ayah dan anak.

Peran Deddy sebagai Mahmud amatlah kuat dalam film yang disebut mirip dengan film produksi Perancis, "Le Grand Voyage", itu. Dedi mampu memberikan kerapuhan, kesendirian dan karisma ke dalam perannya. Wajar, bila kemudian Deddy diganjar Piala Citra untuk kategori Aktor Utama Terbaik di tahun 2015.

6. Doa yang Mengancam (2008), karya sutradara Hanung Bramantyo

Dalam film komedi satir ini, Deddy Sutomo berperan sebagai Pak Tantra, buronan kejahatan "kerah putih" kaya raya yang menculik Madrim (diperankan oleh Aming), yang memiliki kemampuan bisa melacak keberadaan seseorang hanya dengan melihat fotonya.

Lagi-lagi Deddy Sutomo berhasil menampilkan karismanya di film ini. Adegan saat karakternya melakukan dialog dengan Madrim di panggung pertunjukan Wayang Bharata mampu memberikan nuansa dramatis di tengah atmosfer komedi yang ditampilkan oleh Aming. [adc]

Komentar

Embed Widget

x