Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 19 Juni 2018 | 15:22 WIB
 

Inilah Pro Kontra Puisi Esai Paling Heboh Saat Ini

Oleh : Aris Danu | Sabtu, 17 Februari 2018 | 16:20 WIB
Inilah Pro Kontra Puisi Esai Paling Heboh Saat Ini
(Foto: Istimewa)

INILAH.COM, Jakarta-Puisi Indonesia angkatan puisi esai pada 2018 disebut-sebut paling heboh sejak era kemerdekaan. Demikian dinyatakan kritikus sastra Narudin Pituin dalam debat pro dan kontra puisi esai di Jakarta, Jumat (16/2/2018).

Selain Narudin yang pro, hadir juga penentang puisi esai, diantaranya Saut Situmorang, Eko Tunas, dan penulis puisi esai Krt Agus Nagoro. Momentum tersebut merupakan debat pertama dari serial enam kali debat. Penyelenggaranya, yaitu Yayasan Budaya Guntur yang dipimpin Isti Nugroho.

Menurut Narudin, syarat lahirnya angkatan puisi esai terpenuhi. Sudah ada 40 buku dan segera menjadi lebih 70 buku puisi esai yang ditulis. Sudah hadir 250 penulis puisi esai di seluruh provinsi, dari Aceh hingga Papua. Hal ini jumlah yang sangat meyakinkan bagi lahirnya sebuah angkatan.

Terbukti pula puisi esai berbeda dari puisi sebelumnya karena hadirnya catatan kaki. Ini jenis puisi yang menyatukan fakta dan fiksi. Dengan menggunakan kerangka ahli genre David Fishelov, puisi esai sahih bisa diklaim sebagai genre puisi baru. Sah pula genre baru puisi ini digagas penyair yang juga konsultan politik: Denny JA.

Narudin menambahkan, puisi esai pun bisa diklaim kontroversi terheboh sejak era kemerdekaan. Penyebabnya, kontroversi itu terjadi di era media sosial (medsos). Para ahli hingga orang awam sekalipun bisa terlibat kontroversi. Medsos membuat mereka cepat dan massif menyebarkan argumennya.

Fasilitas medsos tak dimiliki oleh kontroversi sastra sebelumnya, baik sastra kontekstual, lekra versus manikebu, hingga polemik kebudayaan. Yang kini diperlukan, ujar Narudin, adalah argumen yang lebih bernas berdasarkan riset, dan dituliskan dalam bentuk makalah. Ini penting agar kontroversi tidak terjatuh menjadi like and dislike personal, tapi debat yang memperkaya sastra.

Pernyataan Narudin itu diamini oleh Krt Agus Nagoro. Agus juga menceritakan proses kreatifnya. Awalnya, ia menentang puisi esai. Namun kegelisahannya atas isu kerusakan sosial akibat pabrik semen, di Jawa Tengah, sebagai penulis ia mencari cara mengekspresikannya.

Agus menemukan format puisi esai cocok untuk ekspresinya. Ada catatan kaki yang membuat data kisah nyata itu bisa masuk dalam puisi. Drama dan puisi yang panjang membuatnya bisa mengeksplor sisi batin peristiwa.

Sementara itu, Eko Tunas membantah puisi esai sebagai genre baru. Menurut Eko, sejenis puisi esai sudah ditulis oleh banyak penyair, sejak tahun 1970an. Saut Situmorang membantah pula keabsahan puisi esai baik sebagai genre baru ataupun angkatan baru. Saut juga membantah keabsahan Denny JA sebagai penggagas.

Denny JA tidak hadir dalam debat pro dan kontra itu. Menurut Denny, ia sengaja tidak hadir agar pihak yang pro dan kontra lebih bebas dalam mengungkapkan gagasannya.

"Ketika menulis puisi esai, saya tak mengira jika efeknya seheboh ini. Ternyata kontroversi dunia puisi sama hebohnya dengan Pilpres," kata melalui keterangan tertulis. [adc]

Komentar

 
Embed Widget

x