Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 13 Desember 2018 | 01:04 WIB

Puisi Denny JA Disebut Bangkitkan Dunia Sastra

Oleh : Aris Danu | Selasa, 2 Januari 2018 | 08:40 WIB

Berita Terkait

Puisi Denny JA Disebut Bangkitkan Dunia Sastra
(Foto: istimewa)

INILAH.COM, Jakarta-Dunia puisi dan sastra di Tanah Air kembali menggeliat pada 2018. Menurut Narudin, sastrawan dan kritikus sastra, hal itu ditandai sejak kemunculan puisi dan esay karya Denny JA.

Pada 2017, puisi Denn JA menghiasi sejumlah peristiwa penting di Tanah Air. Salah satunya Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang membacakan puisi Denny JA berjudul Bukan Kami Punya. Tak tanggung-tanggung, puisi itu dibacakan dalam tiga peristiwa politik nasional penting. Salah satunya Rapimnas Partai Golkar, Mei 2017, di Balikpapan.

Menurut Narudin Pituin dalam catatan awal tahun 2018 soal sastra, puisi kembali menggeliat ke tengah gelanggang.

Tahun 2017, tulis Narudin, bukan saja ditandai oleh pembaruan dunia bisnis dengan datangnya peradaban online. Di dunia sastra, khususnya puisi, juga terjadi pembaharuan itu.

"Sosok Denny JA dengan aneka kontroversinya, bukan saja membawa penulisan puisi baru yang disebut puisi esai. Denny JA membawa masuk entrepreneurship, marketing, dan leadership dalam komunitas puisi yang sebelumnya sepi berita," tulis Narudin, Senin (1/1/2018).

Narudin memasukkan Denny JA dalam jajaran sosok pembaharu sastra sejak zaman pujangga baru. Selain pembaharuan yang dibawa oleh Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri dan Sapardi Djoko Damono, Denny JA juga membawa pembaruan yang belum dilakukan generasi sebelumnya.

"Dalam puisi esai, Denny JA mengawinkan fakta dan fiksi, puisi dan esai. Catatan kaki yang sentral dalam puisi esai, tak hanya hadir sebagai renda-renda. Ia bagian utama yang menghadirkan fakta sosial ke dalam puisi," paparnya.

Melalui puisi esai pula, lanjut Narudi , aneka topik kontroversial yang selama ini tak pernah muncul dalam puisi, dimunculkan. Mulai dengan isu diskriminasi sampai isu kontrovesial LGBT, saham, dan media sosial, menjadi tema puisi esai.

"Sebagian menyatakan, melalui puisi esai, Denny JA mengorbankan estetika. Saya berbeda pandangan," ujar Narudin.

Estetika puisi esai, menurut Narudin, ada di tahap yang beda. Keindahan puisi esai ada pada gagasan dan substansi puisi yang merupakan sebuah drama atau fiksi dari isu sosial.

Fiksionalisasi isu sosial itu bisa dinikmati dalam bahasa yang mudah. Estetika dalam puisi esai memang harus dilihat dari kerangka berpikir (school of tought) yang berbeda.

"Inilah yang membuat puisi esai berharga menjadi bahan catatan sastra awal tahun," demikian sastrawan Narudin. [adc]

Komentar

x