Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 18 Desember 2017 | 21:54 WIB

Slank Tutup Tur Silaturahmi Merajut Kebangsaan

Oleh : Aris Danu | Senin, 18 September 2017 | 17:07 WIB
Slank Tutup Tur Silaturahmi Merajut Kebangsaan
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta-Grup musik Slank menutup rangkaian Tur Silaturahmi Merajut Kebangsaan bersama budayawan Zastrouw Al Ngatawi di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto, Jawa Timur.

Tur yang didukung penuh oleh Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas ini telah digelar di 4 kota dan Mojokerto, tepatnya di kaki gunung Welirang merupakan yang terakhir.

Sebelumnya, band yang digawangi Kaka (vokal), Ridho (gitar), Ivanka (bass), dan Bimbim (drum) ini telah singgah di kota Ciamis (13/09), Brebes (14/09), dan Batang (15/09). Berbeda dengan tur musik pada umumnya, semua rangkaian acara tur digelar di pondok pesantren pada tiap kota.

Tur ini diisi dengan berbagai rangkaian acara, mulai dari ziarah makam, bakti sosial berupa bazar minyak goreng murah, penyerahan bantuan ke pesantren, dialog budaya dan kebangsaan bersama tokoh dan santri, serta puncaknya yaitu konser atau pertunjukan musik oleh Slank.

Konser yang diselenggarakan ini berbeda dengan konsep konser biasanya, yang menjadikannya istimewa, di tengah-tengah pertunjukan musik disisipkan tausiah oleh Zastrouw Al Ngatawi.

Mengambil inspirasi dari lagu Slank yang dibawakan di panggung pada tiap konser, Zastrouw menafsirkan dan membedah lirik-lirik lagu tersebut menjadi pesan moral yang sarat makna.

Mulai dari ajakan untuk berdoa sebelum memulai kegiatan, pesan anti-korupsi, bersedekah, hingga menebar virus perdamaian di muka bumi.

Zastrouw memaparkan bahwa pola seperti ini sudah terjadi di era Wali Songo dan ulama-ulama Nusantara. Pada saat itu yang terkenal adalah wayang, gamelan, dan tembang macapat.

"Dalam konteks kekinian, wayang, gamelan, dan macapat mengalami metamorfosis menjadi musik rock. Ini kita jadikan metode untuk menyampaikan pemikiran serta ajaran tentang keislaman. Dakwah itu intinya adalah untuk memanggil. Dan cara dakwah harus disesuaikan dengan kadar kemampuan pihak yang dipanggil," kata Zastrouw seperi dalam keterangan tertulis, Senin (18/9/2017).

Zastrouw menyinggung bahwa generasi muda saat ini tengah terkepung dari dua penjuru, yaitu liberlisme yang berujung hedonisme dan fundamentalisme agama.

Pihak Slankers sebenarnya butuh bimbingan dan arahan, atau serum yang bisa menahan dari godaan tersebut, akan tetapi dengan dosis dan metode yang tepat," ujar Zastrouw.

Sementara itu Pengurus Yayasan Amanatul Ummah, Gus Bara mendukung kegiatan tausiah dibalut dengan musik tersebut. Ia menyatakan bahwa segala nilai sejatinya dapat ditransfer melalui medium apapun, termasuk dengan musik.

Dan ketika ditanya pendapatnya mengenai Slankers yang berbondong-bondong datang ke pesantren untuk menikmati pertunjukan musik, ia mengambil sisi positifnya.

"Slankers ataupun yang lainnya, mereka sama-sama bagian dari bangsa ini. Mereka tetap harus dihormati sebagai anak bangsa ini. Harapan kami dengan datangnya Slankers ke pondok pesantren agar dapat lebih mengenal nilai positif pesantren dan memahami nilai filosofis lagu-lagu Slank, sehingga menjadi titik balik perubahan ke arah yang lebih baik," papar Gus Bara. [adc]

Komentar

 
Embed Widget

x