Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 23 November 2017 | 09:04 WIB

Uhamka "Pamer Lukisan 72 Tokoh & 7 Presiden RI"

Oleh : Aris Danu | Jumat, 28 Juli 2017 | 21:10 WIB
Uhamka
(Foto: Muhammadiyah)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta-Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) bersama Rajata Kreatif Nusantara menggelar pameran lukisan "Pamer Lukisan 72 Tokoh Indonesia & 7 Presiden RI" dalam rangka peringatan HUT 72 RI.

Pameran lukisan itu menampilkan 80 lukisan realis-ekspresif berteknik palet dan akan dipamerkan di Epiwalk, Epicentrum Kuningan, Jakarta, pada 11 - 17 Agustus 2017.

Objek yang ditampilkan adalah 72 tokoh Indonesia, tujuh Presiden RI, dan satu masterpiece pameran yang berjudul "Obrolan 7 Presiden" (Presiden RI I - VII) dalam suasana mengobrol santai, di atas satu lembar kanvas berukuran 300 cm X 500 cm.

Pembukaan pameran akan diselingi dengan peluncuran buku dan dimeriahkan dengan kumandang lagu-lagu cinta Indonesia yang dimainkan oleh band Blackout.

Seluruh lukisan itu merupakan karya Sohieb Toyaroja. Menariknya, setiap lukisan dilengkapi dengan kisah istimewa tokohnya yang ditulis oleh Roso Daras. Tulisan itu dikemas menjadi buku setebal 953 halaman yang diberi judul "Perjuangan Menjadi Indonesia Bukan Darah Sia-sia". Dengan buku itu, lukisan 72 Tokoh Indonesia & 7 Presiden RI terasa semakin terasa "hidup" dan seolah siap hadir untuk berbagi pengalaman tentang Indonesia.

"Ini merupakan salah satu ekspresi dari rasa cinta dan peduli kami terhadap Indonesia yang dulu, yang sekarang, dan yang akan datang. Kami berharap para pihak dapat bergabung dalam event ini," kata Prof. Dr. Suyatno, Rektor Uhamka dalam keterangannya, Jumat (28/7/2017).

Suyatno menambahkan, pameran lukisan ini sebagai bentuk penghormatan dan peringatan akan perjuangan para pahlawan yang telah bertaruh nyawa.

"Sejarah mencatat ribuan, ratusanribu bahkan jutaan anak bangsa ikhlas bersusah-payah hingga kehilangan jiwa-raga demi membebaskan negeri ini dari kezaliman penjajah. Sebagai bangsa, dimulai sejak era jauh sebelum memiliki kehendak bernegara hingga tercetusnya kata Indonesia sebagai negara, nenek-moyang kita telah mengajari kesadaran mengenai betapa pentingnya kemerdekaan bagi setiap individu. Sesuatu yang bisa disebut sebagai sunnatullah," ungkapnya.

Semangat pengorbanan mereka, kata Suyatno, pantas dimaknai sebagai modal besar yang tak mungkin ditukar dengan hal-hal lain yang dapat menggerus kadar nasionalisme.

"Kita justru harus mengolahnya untuk memperkuat jatidiri dan karakter sehingga mewujud sebagai bangsa besar yang tangguh dan disegani dunia," ujar pria yang juga menjabat Ketua Forum Rektor Indonesia dan Bendahara Umum PP Muhammadiyah itu. [adc]

Komentar

 
x