Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 20 Agustus 2017 | 09:03 WIB

"Kearifan Lokal Sebagai Kekuatan Film Indonesia di Tengah Penetrasi Budaya Asing"

Film Nasional Sebagai Benteng dari Budaya Asing

Oleh : Aris Danu | Senin, 29 Mei 2017 | 23:46 WIB
Film Nasional Sebagai Benteng dari Budaya Asing
(Foto: Inilahcom/Aris Danu)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta-Perkembangan industri perfilman di tanah air sudah mengalami kemajuan pesat. Anehnya sejumlah kalangan masih pesimis untuk bisa bersaing dengan Hollywood. Kenapa?

Dalam acara Dialog Film yang digelar Pusat Pengembangan Film dan Forum Wartawan Hiburan (Forwan) Indonesia di Hotel Santika, baru-baru ini. Aktor, sineas sekaligus tokoh perfilman Indonesia, Tino Saroengallo secara tegas mengatakan jika perfilman nasional sudah mengalami kemajuan.

"Perfilman kita sekarang sudah maju. Ada banyak film yang bisa sampai ke festival internasional dan laris di luar negeri," kata Tino yang menjadi salah seorang pembicara di acara Dialog Film dengan tema "Kearifan Lokal Sebagai Kekuatan Film Indonesia di Tengah Penetrasi Budaya Asing".

Bintang film Quicky Express ini mengatakan, yang perlu diperhatikan terkait industri perfilman tanah air adalah jumlah SDM yang masih minim. Juga soal dana yang masih jauh dengan perfilman Hollywood.

"Kita tak kalah kreatif dari Hollywood atau negara lain, begitu juga dalam hal SDM. Sayangnya kita masih kalah jumlah SDM dan juga soal dana, beda jauh sama Hollywood yang memang film sudah jadi industri besar bagi mereka. Dua hal itu harus terus kita tingkatkan," papar Tino Saroengallo.

Sementara itu mengenai kearifan lokal, lanjut Tino, saat ini sudah produksi film Indonesia yang menggunaka bahasa daerah. Bahkan bukan sekedar selipan atau petikan saja. Tino mencontohkan, film Turah yang seluruh dialognya menggunakan bahasa Jawa Ngapak atau Tegal.

Film lainnya adalah Marlina: Si Pembunuh dalam Empat Babak karya Mouly Surya yang baru saja diputar di Cannes Film Festival 2017. Film yang dibintangi Marsha Timothy ini mengangkat budaya kekerasan di Sumba Barat yang patut diacungi jempol dan mendapat banyak pujian.

"Jangankan masyarakat di luar negeri, masyarakat kita saja mungkin belum banyak yang tahu kalau budaya kekerasan ala parang sebagai senjata yang dibawa sehari-hari masih berlaku di Sumba Barat," tutur Tino.

Senada dengan Tino, Maman Wijaya selaku Kepala Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) juga menyatakan hal yang sama. Menurutnya, nilai kearifan lokal di film Indonesia banyak yang memenangkan penghargaan di ajang internasional.

Termasuk film Ziarah yang mendapat penghargaan Best Screenplay & Special Jury Award - ASEAN International Film Festival & Awards (AIFFA).

Ada banyak tempat indah di Indonesia yang dapat digunakan sebagai lokasi syuting. Untuk hal ini peran pemerintah sangat diperlukan terutama dalam memfasilitasi berbagai perijinan sehingga produksi film bisa berjalan dengan lancar.

Maman menambahkan, konsentrasi Kemendikbud dalam program untuk turut memajukan perfilman di Indonesia salah satunya adalah dengan memberikan dukungan kegiatan non komersial dalam bidang perekamanan.

"Untuk itu, kami akan memberikan dukungan pendanaan kepada komunitas film di daerah yang membuat proses perekaman kebudayaan yang mengusung semangat kearifan lokal," paparnya.

Lebih lanjut Maman mengatakan, semangat kearifan lokal harus didukung demi membentengi dari serbuan nilai-nilai global, yang mengikis nilai-nilai keluhuran kebudayaan asli Indonesia.

"Seperti penetrasi kebudayaan barat via film-filmnya. Yang telah masuk ke ranah publik paling privat kita. Jadi, satu-satunya cara adalah menginternasionalkan nilai-nilai kebudayaan kita," tandasnya. [adc]

 
Embed Widget

x